Kamis, 05 Mei 2016

5 Fakta Unik Ini Menandai Gelar Juara Leicester City


Ikuti
Perayaan Juara Liga Leicester City 2014-2015 via youtube.com
Mereka adalah tim yang tak diperhitungkan sekaligus pasukan termurah keempat di kancah Premier League yang bertabur uang dan bintang. Faktanya, ‘pasukan murah’ ini mampu menghajar tim-tim raksasa dan tampil konsisten sepanjang musim dengan rutin mencetak gol ke jala lawan. Kemenangannya lantas diiringi oleh serangkaian fakta unik dan menarik.
Dialah Leicester City, fenomena Premier League saat ini….

1. Faktor Eden Hazard, Leicester?

 Eden Hazard (the42.ie)
Para pendukung Leicester City mengelu-elukan Jamie Vardy atau Riyad Mahrez sebagai pahlawan tim. Padahal, mereka juga perlu berterima kasih, atau mungkin perlu membuat yel-yel untuk Eden Hazard. Ya, Eden Hazard adalah penentu gelar juara Leicester City.
Eden Hazard sukses mengantarkan timnya, Chelsea, menjadi juara Liga Inggris musim lalu. Saat itu, gol Hazard ke gawang Crystal Palace adalah faktor krusial yang membuat Chelsea mengunci gelar juara Liga Inggris di kandang sendiri.
Uniknya, setelah gol ke gawang Palace itu, Hazard seperti mengalami kutukan; belum pernah lagi mencetak gol di Stamford Bridge selama kompetisi Liga Inggris. Dikutip CNN Indonesia, gol itu tercipta kembali 365 hari kemudian saat Hazard mencetak gol dalam pertandingan Chelsea melawan Tottenham. Dengan demikian, ia telah membantu Leicester menjadi juara lewat satu gol di hadapan publik Chelsea.

2. Kesamaan Antara Peter Schmeichel dan Kasper Schmeichel dalam Meraih Gelar

 Peter Schmeichel dan Kasper Schmeichel (talksport.com)
Dalam merengkuh gelar juara pertamanya, Kasper Schmeichel, kiper Leicester City memiliki proses yang relatif sama dengan sang ayah, Peter Schmeichel. Keduanya meraih gelar juara ‘tanpa lelah’ alias memanfaatkan hasil minor tim lawan.
Dikutip Kompas,Kasper Schmeichel merasakan gelar juara pertamanya bersama Leicester City bukan melalui pertandingan yang ia jalani, melainkan karena hasil imbang Chelsea-Tottenham. Mereka kemudian berpesta di rumah Jamie Vardy, striker Leicester yang baru saja dianugerahi gelar Pemain Terbaik Premier League 2016 versi Asosiasi Jurnalis (FWA).
Hal yang sama terjadi pada ayah Kasper, Peter Schmeichel. Pada 2 Mei 1993, Peter Schmeichel memenangi gelar pertamanya bersama Manchester United bukan karena tim tersebut meraih tiga poin, melainkan karena kekalahan pesaing terdekatnya, Aston Villa, dari Oldham Athletic dengan skor 0-1.
Kesamaan ayah-anak itu tak berhenti sampai di sana. Bila dicermati, keduanya memastikan kemenangan pada tanggal yang sama, yaitu 2 Mei. Peter meraihnya pada 2 Mei 1993, sementara Kasper persis 2 Mei 2016.
Berdasarkan cuitan dari akun resmi Peter Schmeichel pula, diketahui bahwa keduanya meraih gelar pertama mereka pada usia 29 tahun. Akun sang ayah terdaftar dengan nama @Pschmeichel1.

3. Penantian Nyaris Setengah Abad Leicester City

 Derby County 1971-1972 (pinterest.com)
Gooners, fans Arsenal, barangkali perlu belajar untuk bersabar dari pendukung The Foxes. Bagaimana tidak, untuk menjadi juara di kasta tertinggi, Leicester City membutuhkan kompetisi selama 48 musim. Periode penantian tersebut merupakan yang terlama dalam sejarah klub Inggris.
Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh Derby County. Klub itu membutuhkan waktu selama 46 tahun untuk menjadi juara. Mereka akhirnya berhasil merengkuh gelar juara pada musim 1971-1972.
Baca: Inilah 5 Komentar Aneh Claudio Ranieri Mengenai Gelar Juara Leicester City

4. Mr. Runner Up Bernama Claudio Ranieri

 Claudio Ranieri (dailystar.co.uk)
Kesuksesan mengantarkan Leicester City menjuarai liga juga memiliki arti mendalam bagi Claudio Ranieri. Dengan usia 64 tahun, dia menjadi pelatih tertua yang mengangkat trofi Premier League untuk pertama kalinya.
Sebelumnya, Ranieri hanya mampu meraih gelar-gelar minor bersama Cagliari (Serie C1), Fiorentina (Serie B), dan AS Monaco (Ligue 2). Gelar-gelar yang diraihnya pun kebanyakan berasal dari sejumlah kompetisi berbasis turnamen, bukan liga. 
"Saya berusia 64 tahun. Saya telah berjuang untuk waktu yang panjang tetapi saya selalu (berpikir) positif dan memiliki hal positif di sisi saya," kata Ranieri dalam wawancaranya dengan salah satu stasiun televisi, Rai 3.
Keberhasilan Ranieri menjadi juara sekaligus menjadi balasan atas sejumlah kritik yang menyertainya saat ia ditunjuk sebagai manajer Leicester City pada musim panas 2015 lalu. Maklum, dia lekat dengan julukan Mr. Runner-up dan beberapa bulan sebelumnya dipecat dari kursi pelatih tim nasional Yunani.
"Saya selalu berpikir bahwa saya akan memenangi liga di suatu tempat. Saya adalah pribadi yang sama saat dipecat oleh Yunani," kata mantan pelatih Juventus itu.
"Mungkin orang lupa dengan karier saya. Bukan seolah-olah orang akan lupa tetapi saya adalah orang yang sama seperti saat saya berada di bangku cadangan tim nasional Yunani. Saya tidak berubah," tutur Ranieri.

5. Menelepon Hiddink Untuk Mengucapkan Terima Kasih

 Akun Twitter Chelsea FC (twitter.com)
Ada cerita menarik dari Manajer Chelsea, Guus Hiddink, setelah menahan imbang Tottenham Hotspur di Stamford Bridge pada Senin, 2 Mei 2016 waktu standar Inggris. Caretaker Chelsesa itu mendapat telepon dari Claudio Ranieri. Mengapa Ranieri menelepon?
Rupanya, Claudio Ranieri hendak mengucapkan terima kasih atas perjuangan Chelsea dalam menahan imbang Spurs, terutama pada babak kedua. Kala itu, Chelsea memang mampu mengatasi defisit dua gol dari Spurs. Gary Cahill menorehkan gol pada menit ke-58. Eden Hazard lantas menutup skor pada menit ke-83. Padahal, Spurs sempat unggul melalui gol-gol dari Harry Kane (menit ke-35) dan Heung-Min Son (menit ke-44).
Ranieri sendiri pernah berkarier di Stamford Bridge pada 2000-2004. Sesuai julukannya, ia sempat membawa klub tersebut menjadi runner-up pada 2003.

Sumber Selasar.com


EmoticonEmoticon